
Tulisan kali ini penulis ingin mengulas sesuatu yang menarik sekaligus membuat frustrasi banyak orang: bagaimana caranya agar kita bisa mengerahkan 100% motivasi kita. Pernahkah Anda bertanya-tanya, “Seperti apa hidup saya jika saya selalu memberikan usaha maksimal?” Kita tahu bahwa jika kita mampu mengeluarkan semua energi dan fokus kita, hasilnya pasti luar biasa. Tetapi sayangnya, kebanyakan dari kita justru sering melakukan kegiatan setengah-setengah. Biasanya sih, yang penting selesai.
Menariknya, motivasi bukanlah konsep yang sederhana. Motivasi melibatkan banyak disiplin ilmu, seperti ilmu saraf, psikologi klinis, bahkan filsafat serta praktik spiritual dari Timur seperti yoga dan meditasi. Oleh karenanya, tulisan ini akan mengeksplorasi motivasi dari berbagai sudut pandang ini agar Anda benar-benar bisa memahami dan (semoga bisa) mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apa itu Motivasi 100%?
Pertama, mari kita pahami dulu apa yang terjadi dalam diri kita ketika benar-benar termotivasi. Ketika Anda memberikan 100% usaha, biasanya Anda merasakan keselarasan emosi dengan tugas atau pekerjaan dihadapan Anda. Emosi Anda selaras dengan apa yang sedang Anda lakukan, entah itu marah, gembira, penasaran, atau penuh semangat. Energi Anda juga terasa optimal, sehingga tugas yang dihadapi terasa ringan, bahkan menyenangkan.
Namun, saat kita tidak mampu mengerahkan usaha maksimal, biasanya kita merasa tidak menyukai tugas tersebut atau merasa tidak memiliki energi. Kalimat seperti, “Saya tidak menyukainya” atau “Saya tidak punya energi hari ini” seringkali muncul. Tapi, apakah benar kita tidak memiliki energi atau ini hanya alasan emosional saja? Jadi intinya ada dua axis yang harus selaras. kesediaan energi dan kondisi emosi.
Emosi dan Persepsi Diri
Rahasia pertama yang perlu dipahami: motivasi sangat berkaitan erat dengan persepsi kita tentang diri sendiri. Jika Anda melihat diri Anda sebagai seseorang yang mampu, Anda akan cenderung merasa tertantang dan termotivasi ketika menghadapi tugas. Sebaliknya, jika Anda menganggap diri Anda kurang mampu atau merasa tidak kompeten dalam suatu hal, Anda akan merasa malas, cemas, atau bahkan takut.
Misalnya, bayangkan Anda pergi makan malam bersama teman-teman, lalu tiba-tiba mereka mengajak Anda berjoged. Bagaimana reaksi Anda? Jika Anda merasa sebagai penari yang baik atau percaya diri dalam menari, Anda akan antusias. Namun jika Anda berpikir sebaliknya, Anda mungkin merasa gugup dan menarik diri. Padahal, realitanya, belum tentu Anda buruk dalam menari—Anda hanya berpikir demikian tentang diri Anda.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Albert Bandura mendukung ide ini melalui konsep “self-efficacy” atau keyakinan diri seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan sesuatu. Orang yang memiliki self-efficacy tinggi lebih mungkin untuk mengambil tantangan, berusaha keras, dan bertahan dalam menghadapi hambatan.
Energi dan Tingkat Stres
Hal kedua yang perlu dipahami adalah hubungan antara energi dan stres. Menurut penelitian dalam bidang psikologi dan neurosains, energi optimal sering kali muncul ketika kita mengalami stres dalam tingkat yang sedang. Psikolog menyebut kondisi ini sebagai “eustress,” yaitu stres positif yang mendorong kita untuk bertindak dengan semangat tinggi.
Sebaliknya, jika tugas terlalu mudah atau terlalu sulit, tingkat energi kita justru turun. Saat tugas terasa membosankan, otak tidak merasa perlu mengalokasikan banyak energi. Sedangkan ketika tugas terlalu sulit dan membuat kita merasa kewalahan, otak akan merespon dengan rasa lelah atau putus asa, sehingga energi kita menurun drastis.
Inilah yang disebut dengan “Yerkes-Dodson Law,” yang menyatakan bahwa performa optimal terjadi pada tingkat stres sedang. Jadi, mengelola tingkat stres menjadi kunci penting untuk menjaga motivasi tinggi.
Mengelola Persepsi untuk Meningkatkan Motivasi
Lalu bagaimana caranya kita bisa mengelola persepsi diri dan tingkat stres agar motivasi selalu terjaga tinggi? Jawabannya adalah dengan mengubah cara pandang kita terhadap tugas dan diri sendiri. Cara pandang ini bukan soal mengubah kenyataan objektif tentang kemampuan kita, melainkan bagaimana kita memandang diri sendiri dalam menghadapi tantangan.
Misalnya, seorang atlet profesional yang menghadapi kompetisi besar bisa saja merasa stres tinggi. Namun, jika dia percaya pada kemampuannya, stres tersebut menjadi energi positif yang mendorong performa terbaiknya. Sebaliknya, jika dia meragukan kemampuannya, stres yang sama justru bisa membuatnya lumpuh. Jadi lagi-lagi, masalah persepsi.
Pendekatan Yoga dan Meditasi
Karena membahas persepsi, mungkin ada baiknya mulai memahami pendekatan dari Timur seperti yoga dan meditasi. Pendekatan ini bisa membantu kita menambah wawasan tentang motivasi. Tradisi yoga mengajarkan bahwa identitas diri kita sebenarnya adalah konstruksi mental—hanya kesimpulan yang kita tarik dari pengalaman hidup. Identitas ini sangat fleksibel dan bisa berubah.
Melalui meditasi, kita bisa melatih pikiran untuk tidak terlalu melekat pada identitas tertentu. Teknik sederhana seperti duduk tegak dengan tulang belakang lurus, bernapas dalam-dalam, dan memperhatikan pikiran tanpa menghakimi, bisa membantu kita melepaskan atribut identitas negatif seperti “Saya tidak bisa”, atau “Saya tidak mampu”.
Studi dari UCLA Mindful Awareness Research Center menunjukkan bahwa meditasi rutin dapat mengurangi aktivitas pada bagian otak yang terkait dengan pemikiran negatif dan meningkatkan aktivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan empati, pembelajaran, dan regulasi emosi.
Langkah Praktis Membuka Motivasi Anda
Berikut langkah-langkah praktis untuk membantu Anda membuka 100% motivasi:
- Identifikasi tugas yang sulit Anda lakukan. Catat tugas tersebut dan sadari emosi serta energi yang muncul.
- Telusuri akar persepsi negatif. Temukan bagian identitas Anda yang menciptakan respons negatif tersebut. Contoh: “Saya tidak pandai menari.”
- Praktik meditasi singkat. Duduk tegak, tarik napas dalam-dalam, dan lepaskan identitas negatif tersebut dengan menyadari bahwa itu hanyalah konstruksi mental.
- Ubah narasi diri secara sadar. Ciptakan narasi baru yang lebih positif dan realistis, seperti “Saya sedang belajar menjadi penari.”
- Berikan tantangan yang tepat. Atur tingkat kesulitan tugas agar terasa menantang tetapi tetap dalam jangkauan kemampuan Anda, sehingga muncul eustress.
- Lakukan secara rutin. Motivasi bukan sesuatu yang Anda lakukan sekali lalu selesai. Anda harus berlatih secara rutin agar menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, mencapai motivasi 100% bukan hanya tentang mencapai sesuatu. Kondisi ini tentang menjalani hidup dengan lebih utuh, berani mencoba hal-hal baru, dan membangun rasa percaya diri sejati yang tidak terikat pada konstruksi identitas sempit.
Bayangkan betapa luar biasanya kehidupan jika Anda bisa menjalani setiap hari dengan motivasi seutuhnya. Setiap tantangan menjadi peluang, setiap hambatan menjadi pelajaran, dan setiap tugas menjadi ajang ekspresi diri yang autentik.
Semoga dengan memahami hubungan antara emosi, persepsi diri, energi, dan motivasi, serta mempraktikkan pendekatan yoga dan meditasi yang telah terbukti secara ilmiah, Anda akan mampu membuka potensi optimal Anda. Mulailah hari ini, dan berharap terjadi perubahan besar yang akan Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari Anda.


