
Halo Pembaca, maafkan penulis yang sibuk dengan Jobfair.. Kali ini mari kita lanjutkan. pengejaran kesempurnaan telah menjadi norma di dunia. Saat ini, di mana ketidakpuasan kronis, kelelahan, depresi, dan kecemasan merajalela, salah satunya disebabkan tampilan model fesyen dengan wajah yang selalu tersenyum, gambar kebahagiaan sempurna tanpa kompromi yang diteriakkan kepada kita beginilah seharusnya hidup via sosial media. Anda dan penulis mencoba meniru keagungan gaya hidup ideal yang ditampilkan. Kita, menghabiskan banyak uang untuk mengubah hidup kita, lingkungan dan kemudian memamerkannya di media sosial dengan gambar dan video untuk menunjukkan kepada dunia keindahan hidup kita. Kesempurnaan seolah apa yang kita butuhkan dari wajah yang rupawan sempurna, tubuh yang berbentuk seperti dewa dewi Yunani, Rambut, kulit, teman, rumah, pasangan, keluarga, anak-anak, liburan.. Singkatnya keberadaan tanpa cela. Kesempurnaan ini tidak hanya mustahil dan melelahkan untuk dikejar, itu juga tidak wajar. Ada isitilah “wabi-sabi” di Jepang. Wabi-sabi menolak mengejar kesempurnaan dan merangkul realitas ketidaksempurnaan filosofi di balik wabi-sabi dapat membantu kita keluar dari roda hamster mengejar kehidupan yang ideal. Wabi-Sabi juga menghargai keberadaan yang sangat tidak sempurna.
Banyak yang akan setuju bahwa tidak mungkin untuk mencapai definisi yang jelas tentang wabi- sabi. Arti kata wabi dan sabi telah berubah dari waktu ke waktu. Saat ini, wabi merujuk pada hal-hal sederhana tetapi lebih pada dasar kasar tidak sempurna secara asimetris seperti yang kita temukan di alam. Sabi merujuk untuk hal-hal yang disentuh oleh waktu yang menunjukkan tanda-tanda pembusukan atau kerusakan. Wabi-sabi dalam tulisan ini, kita bisa menggambarkannya sebagai pengalaman perjumpaan yang jernih dengan sifat keberadaan sementara yang tidak sempurna. Mengejar kesempurnaan seperti mengejar mimpi yang mustahil atau mengejar fantasi keutuhan dari keadaan tertinggi yang pada akhirnya tidak dapat kita capai. Banyak orang melihat kesempurnaan sebagai pengalaman subyektif karena standar kesempurnaan cukup beragam bagi sebagian orang. Mereka akan menganggap sempurna apa yang orang lain anggap cela, Plato berpendapat kesempurnaan tidak bisa eksis di luar alam pemikiran, cita-cita hanya bisa ada di pikiran kita dan sisanya hanyalah replika, tambahkan sifat sementara. Kita pada akhirnya akan lapuk dimakan zaman. Pasangan yang tampak hampir sempurna, dia akan segera menjadi korban usia tua. Tubuh yang tampak hampir sempurna itu akan cepat menua, Semakin kita mencoba untuk menyempurnakan sesuatu semakin kaku dan rapuh.
Intinya, lebih mudah membawa cangkir kosong daripada yang diisi sampai penuh. Semakin tajam pisaunya semakin mudah untuk menumpulkan. Semakin banyak kekayaan yang Anda miliki semakin sulit untuk melindungi. Jika Anda menjaga ruang tamu Anda dalam keadaan kerapian yang hampir sempurna hanya sedikit debu yang bisa merusaknya. Dengan demikian, mengejar kesempurnaan tampaknya menjadi tugas yang sia-sia. Kesempurnaan adalah tujuan yang tidak mungkin, karena kita hanya dapat mengusahakan yang terbaik. Mengejar kesempurnaan sering kali melelahkan. Kita merasa tertekan cemas dan membenci diri sendiri saat kita membebani diri kita sendiri dengan rasa kekurangan yang berkelanjutan dan rasa takut kehilangan.
Apabila Kesempurnaan berhasil kita capai, Kita seperti mati-matian berusaha menjaga air di kolam tetap tenang dan jernih meskipun kita tidak bisa mencegah gempa bumi hujan angin dan fenomena alam lainnya. Kita sebagai manusia tidak sempurna. Ketidaksempurnaan memang bukan kesempurnaan tapi merupakan keadaan alami. Indahnya ketidaksempurnaan dan merangkul ketidaksempurnaan bukan berarti kita tidak boleh memperbaiki diri. Perbaikan diri boleh saja asalkan masih dalam batas akal dan tanpa tujuan kesempurnaan juga. Menerima kenyataan bahwa hidup pada dasarnya cacat dan tidak ada yang kita pegang. Oleh karenanya, menurut tradisi Budhis, keinginan untuk kesempurnaan adalah bentuk kemelekatan yang kita pegang. Sebuah gagasan atau visi besar tentang bagaimana segala sesuatu seharusnya merupakan kemelekatan yang terletak pada akar penderitaan. Dengan membiarkan fantasi kesempurnaan ini lenyap, kita dapat melepaskan diri kita dari siksaan kemelekatan. Tidak memiliki standar tidak ada batu atau pohon atau gunung yang harus memenuhi persyaratan khusus. Alam hanya membawa manifestasi ini ke dunia sebelum mereka layu dan menghilang.
Wabi-sabi adalah pengalaman tentang bagaimana hal-hal tidak sebagaimana mestinya, Dalam kondisi sementara yang tidak sempurna. Seseorang harus sangat menyadari ketidakkekalan dunia. Jadi kalau kita ingin merdeka dari perasaan cemas khawatir dan “seharusnya” maka semuanya ini tidak sempurna. Apa yang terjadi adalah yang terbaik. Oleh karenanya, bagaimana mengubah pandangan ini, ada baiknya Anda kenal diri anda dan memahami mengapa anda ingin sempurna.


