
Kapitalisme, sebagai sistem ekonomi dan politik, berdampak besar pada psikologi individu. Kapitalisme didasarkan pada prinsip penawaran dan permintaan, dimana harga barang dan jasa ditentukan oleh interaksi antara produsen dan konsumen. Tujuan dari sistem kapitalis adalah untuk memaksimalkan keuntungan, yang seringkali melibatkan eksploitasi sumber daya alam, tenaga kerja, dan konsumen. Eksploitasi ini dapat memiliki efek negatif pada jiwa manusia.
Salah satu dampak kapitalisme yang paling signifikan terhadap psikologi adalah terciptanya budaya konsumerisme. Kapitalisme mendorong individu untuk terus membeli barang dan jasa. Alhasi fokus Individu hanya fokus pada harta benda dan mengabaikan nilai-nilai non-materi seperti komunitas, relasi manusia, dan pertumbuhan pribadi. Fokus pada kepemilikan materi ini dapat menyebabkan perasaan tidak aman dan cemas, karena individu terus-menerus berusaha untuk mengikuti tren dan teknologi terkini. Selain itu, dorongan untuk mengumpulkan kekayaan dan kepemilikan dapat menimbulkan rasa hampa, karena individu mungkin menemukan bahwa kesuksesan materi mereka tidak membawa rasa kepuasan yang mereka harapkan.
Kapitalisme juga mengarah pada tingkat persaingan yang tinggi, yang dapat berdampak negatif pada jiwa manusia. Penekanan pada persaingan dalam sistem kapitalis menciptakan mentalitas pemenang-mengambil-semua, di mana kesuksesan ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk mengungguli orang lain. Mentalitas ini dapat menimbulkan perasaan cemas, karena individu mungkin merasakan tekanan untuk terus berkembang dan tetap terdepan dalam persaingan. Selain itu, penekanan pada persaingan dapat menyebabkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Kondisi ini terjadi karena individu dapat terus-menerus membandingkan diri mereka dengan orang lain dan merasa tidak mampu jika mereka tidak mampu mengikuti trend atau barang baru yang lagi beken.
Kapitalisme juga dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Stres karena bekerja berjam-jam dan tekanan untuk terus bekerja dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, sifat sistem kapitalis yang tidak stabil dapat menyebabkan hilangnya pekerjaan dan ketidakamanan finansial, yang dapat menyebabkan stres dan kecemasan yang signifikan. Persaingan dan tekanan yang konstan untuk tampil juga dapat menyebabkan perasaan terasing dan kesepian, karena individu mungkin merasa bahwa mereka tidak dapat terhubung dengan orang lain dan membentuk hubungan yang berarti.
Dengan penjabaran diatas, sudah nampak sangat gamblang bahwa masalah kesehatan mental yang terjadi di Negeri ini, terjadi karena overdosis mekanisme kapital. Apakah betul masyarakat yang katanya ramah tamah dan murah senyum saat itu masih bisa mempertahankan sifat-sifat adiluhur ketika dihadapkan pada realitas kapital yang begitu intens? Seiring dengan masa pandemi kemarin dan ketidakstabilan penghidupan sebagai imbasnya, nampak jelas makin maraknya gejala kesehatan mental yang memburuk pada semua lapisan masyarakat. Penulis sih senang-senang saja, karena setidaknya masyarakat mulai peduli dengan kesehatan mental. Namun, masalahnya kesehatan mental yang sifatnya imaterial (tidak kasat mata) mempengaruhi hampir semua sendi kehidupan individu. Relasi dengan orang terdekat, perasaan tertekan, merasa tidak berdaya hingga gangguan psikologi yang sifatnya sudah klinis frekuensinya makin sering. Seperti layaknya orang yang bersabar menghadapi tantangan hidup, tinggal tunggu waktu ledakan “emosi”akan muncul. Semoga penulis salah..


