Kita Bekerja Keras Setengah Mati Untuk Apa?

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn

Jika ada kata yang paling sering muncul pada diskusi tentang organisasi selama satu dekade terakhir, mungkin kata itu adalah tranformasi atau perubahan. Hampir setiap perusahaan berbicara tentang transformasi digital, inovasi, agility, budaya baru, atau kesiapan menghadapi masa depan. Buku-buku manajemen penuh dengan cerita sukses perusahaan yang berhasil beradaptasi. Konsultan menawarkan berbagai framework perubahan. Teknologi baru terus bermunculan dan menjanjikan cara kerja yang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih cerdas. Di tengah semua itu, organisasi berlomba-lomba untuk bergerak lebih cepat daripada sebelumnya.

Namun semakin sering penulis berjumpa dengan berbagai program perubahan, penulis selalu timbul pertanyaan yang terasa mengganggu: apakah kita  memahami manusia yang harus berubah demi organisasi?

Penulis percaya, ide dan inisiatif perubahan dimulai dengan niat yang baik. Namun, seperti kutipan bijaksana, jalan menuju neraka, diaspal dengan niatan baik.  Ok, Organisasi melihat ancaman dari luar, membaca tren pasar, mengamati perubahan perilaku pelanggan, atau menyadari bahwa cara lama tidak cukup untuk menghadapi masa depan. Dari sana lahirlah strategi, struktur, sistem baru, dan berbagai program pengembangan yang dirancang untuk membantu organisasi berjalan menuju kondisi yang lebih baik. Secara logika, jelas masuk akal. Jika perubahan diperlukan untuk bertahan hidup, maka semakin cepat perubahan dilakukan seharusnya semakin baik. Sayangnya, manusia tidak selalu bergerak mengikuti logika yang sama dengan organisasi.

Salah satu asumsi yang sering muncul dalam dunia manajemen adalah keyakinan “jika manfaat perubahan dijelaskan dengan baik, maka karyawan-karyawan akan mendukungnya”. Jika datanya akurat, orang akan yakin. Jika insentifnya tepat, orang akan setuju. Jika pelatihannya memadai, orang akan berubah. Namun pengalaman menunjukkan bahwa kenyataan jauh lebih ruwet. Kita sering menemukan karyawan-karyawan cerdas yang memahami kebutuhan transformasi tetapi tetap sungkan bergerak. Menejemen menemukan tim yang setuju secara rasional tetapi tidak pernah benar-benar berkomitmen. Inilah yang terjadi, penulis menemukan organisasi yang menghabiskan banyak sumber daya untuk program transformasi tetapi tetap kesulitan mengubah perilaku manusianya sehari-hari.

Masalahnya bukan karena manusia tidak rasional. Masalahnya adalah manusia tidak hidup berdasarkan logika semata.

Setiap orang membawa nilai (value) yang memengaruhi cara mereka memandang dunia. Ada yang sangat menghargai stabilitas. Ada yang mengejar kesempatan untuk berkembang. Ada yang mencari pengakuan atas kontribusinya. Ada yang menemukan makna dalam hubungan sosial yang dibangun melalui pekerjaannya. Ketika perubahan datang, mereka tidak hanya bertanya apakah perubahan itu masuk akal. Mereka juga, sering kali tanpa sadar, bertanya apakah perubahan itu sejalan dengan hal-hal yang mereka anggap penting.

Pada saat inilah banyak organisasi mulai glagapan dalam membaca situasi. Ketika seseorang karyawan terlihat lambat menerima perubahan, ia dianggap resisten. Ketika tim tidak bergerak secepat yang diharapkan, mereka dianggap kurang agile. Ketika engagement menurun, organisasi segera memperbanyak komunikasi dan pelatihan. Padahal dalam banyak kasus, orang-orang tersebut tidak sedang melawan perubahan. Mereka sedang berusaha melindungi sesuatu yang mereka anggap bernilai. Rasa aman ini bisa berupa rasa aman, identitas profesional, hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, atau cara tertentu dalam memberi makna pada pekerjaannya.

Fenomena inilah yang sering muncul sebagai hidden friction—gesekan yang tidak terlihat di dashboard, tidak muncul dalam KPI, dan jarang terdengar dalam rapat evaluasi. Dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Orang hadir dalam rapat. Orang mengikuti pelatihan. Orang mengisi survei. Namun energi yang seharusnya menggerakkan perubahan tidak pernah benar-benar muncul. Organisasi kemudian mengira masalahnya adalah kurangnya komunikasi atau kurangnya motivasi, padahal akar persoalannya berada jauh lebih abstrak: perubahan yang ditawarkan belum berhasil relate dengan nilai yang hidup di dalam karyawannya.

Jadinya, perubahan yang paling bertahan sering kali tidak dimulai dari program yang paling megah. transformasi dimulai dari pergeseran kecil dalam cara seseorang memandang pekerjaannya. Ketika seorang pemimpin berhenti melihat dirinya sebagai penyelesai masalah (problem solver) dan mulai melihat dirinya sebagai pengembala manusia (human developer). Transformasi nampak saat seorang karyawan berhenti bekerja hanya untuk menyelesaikan tugas dan mulai melihat pekerjaannya sebagai kontribusi terhadap sesuatu yang lebih besar. Ketika sebuah tim berhenti bertanya siapa yang salah dan mulai bertanya apa yang bisa dipelajari. Pergeseran-pergeseran kecil seperti ini jarang terlihat dalam laporan bulanan, tetapi sering menjadi awal dari perubahan yang bertahan paling lama.

Bisa dikatakan mungkin inilah pelajaran tentang tranformasi. Kita hidup di zaman yang tidak kekurangan solusi. Framework tersedia di mana-mana. Teknologi semakin canggih. Metodologi transformasi semakin customize. Justru yang sering kurang justru kemampuan untuk memahami manusia yang harus menjalankan semua perubahan itu. Terlalu banyak organisasi yang bertanya bagaimana membuat orang berubah, tetapi terlalu sedikit yang bertanya apa yang sebenarnya dianggap penting oleh orang-orang yang ada di dalamnya.

Padahal pada akhirnya organisasi bukanlah kumpulan strategi, proses, atau struktur. Organisasi adalah kumpulan manusia yang setiap hari memutuskan apa yang layak diperjuangkan. Oleh karenanya selama kita belum memahami hal itu, kita mungkin akan terus berlari dari satu program transformasi ke program berikutnya tanpa pernah benar-benar mengetahui ke mana arah yang ingin kita tuju.

Karena perubahan yang paling kuat tidak terjadi ketika orang dipaksa bergerak. Perubahan yang paling kuat terjadi ketika orang menemukan alasan mengapa perubahan itu layak diperjuangkan. Sayangnya alasan itu hampir selalu berakar pada sesuatu yang jauh lebih personal daripada logika dan indikator. Alasan itu berakar pada nilai (value).

More to explorer

Artikel Lainnya

Leave a Reply

Discover more from Wikantiyoso

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading