Mengapa Orang Pintar Bisa Menjadi Radikal (berdasarkan Riset)

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn

Bagaimana Kecerdasan Memunculkan Ilusi?

Di dunia yang sering mengkotak-kotakkan orang berdasarkan kecerdasan, sebuah penelitian oleh Profesor Di Universitas Yale, Dan Kahan, pada tahun 2013 membuka mata kita tentang bagaimana kecerdasan dapat mempengaruhi bias ideologis. Hasilnya cukup mengejutkan: ternyata, orang-orang cerdas tidak selalu menggunakan kecerdasan mereka untuk mengakses kebenaran, tetapi sering kali malah untuk memperkuat prasangka atau prejudice ideologis mereka.

Hasil Penelitian yang Mengubah Asumsi

Kahan menggunakan tes refleksi kognitif untuk mengukur kemampuan penalaran seseorang. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa baik orang yang menganut paham liberal maupun konservatif memiliki skor yang sama pada umumnya, tetapi individu dengan skor tertinggi cenderung menunjukkan bias politik yang paling kuat. Ketika data tentang pengobatan ruam kulit diberikan, mereka yang berpengetahuan luas bisa menilai secara objektif. Namun, ketika topik yang sama dibahas dalam konteks “sosial” seperti kesenjangan sosial, yang berpengetahuan tinggi justru menunjukkan bias terbesar.

Hubungan Antara Kecerdasan dan Bias

Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang cerdas cenderung memiliki bias yang lebih kuat dan lebih bertahan pada kedua sisi isu politik. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan bukanlah jaminan dari pemahaman yang lebih besar atau objektivitas; sebaliknya, kecerdasan bisa digunakan untuk membenarkan prasangka pribadi.

Kecerdasan Sebagai Alat

Dalam penelitian kecerdasan buatan, konsep konstruk ortogonalitas menunjukkan bahwa kecerdasan hanyalah keefektifan dalam mengejar tujuan. Kecerdasan tidak menjamin bahwa tujuan tersebut baik atau bermoral. Di sini, kecerdasan manusia sering kali dikembangkan tidak hanya untuk mengejar kebenaran objektif tetapi untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial, seringkali melalui keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan atau bahkan merugikan.

Kecerdasan dan Kecenderungan untuk Menipu Diri

Menurut Kahan, orang cerdas cenderung melakukan apa yang disebut “kognisi pelindung identitas” (identity-protective cognition), di mana mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk mempertahankan atau meningkatkan status sosial mereka, bukan untuk mendekati kebenaran. Saul Bellow pernah berkata, “Banyak kecerdasan dapat diinvestasikan dalam ketidaktahuan ketika kebutuhan akan ilusi sangat besar.” dalam praktek, sering kita jumpai bagaimana “membangun narasi” merupakan pekerjaan yang membutuhkan banyak sekali sumberdaya dan keterampilan.

Akademisi dan “Woke”isme

Dalam masyarakat akademis, ada kecenderungan untuk menghasilkan Pendebat ulung terlatih di institusi elit seperti Oxford dan Harvard, yang sangat mahir dalam berargumen tetapi tidak selalu dalam menemukan kebenaran. Hasilnya adalah kelompok orang yang mampu menggunakan kecerdasan mereka untuk membenarkan ide-ide yang tidak masuk akal—seperti wokeisme, yang memandang dunia hanya melalui lensa hubungan penindas dan yang tertindas. Tentu saja efek “woke culture” ini bisa kita rasakan saat ini.

Normalisasi Ilusi dan Pencucian Ide

Wokeisme telah menormalkan beberapa pandangan yang kontroversial dan sering kali tidak masuk akal melalui argumen-argumen yang canggih dan ‘pencucian ide’, sebuah proses di mana opini diubah menjadi jargon akademis untuk membuatnya tampak seperti pengetahuan objektif. Ini telah menyebabkan penyebaran ide-ide yang mendisrupsi pemahaman yang sebenarnya tentang isu-isu sosial dan ilmiah.

Mengatasi Bias dengan Kecurigaan Intelektual

Untuk melawan kecenderungan kecerdasan yang digunakan salah, kita perlu mengembangkan rasa ingin tahu yang lebih besar dan kerendahan hati intelektual. Curiosity Zone, di mana pengetahuan dasar mengundang lebih banyak pertanyaan, adalah langkah awal dalam menjaga objektifitas. Dengan mengakui bahwa kita mungkin salah dan terbuka untuk berubah pikiran, kita dapat mengarahkan kecerdasan kita ke tujuan yang lebih produktif—yakni pencarian kebenaran objektif.

Dengan memahami bagaimana kecerdasan bisa salah arah, kita dapat lebih kritis terhadap informasi yang kita terima dan lebih cermat dalam menggunakan logika dan alasan kita. Ini bukan hanya untuk menang dalam argumen tetapi untuk benar-benar memperkaya pemahaman kita tentang dunia.

More to explorer

Artikel Lainnya

Leave a Reply

Discover more from Wikantiyoso

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading