
Ada seorang psikolog yang mengatakan bahwa kebalikan dari perasaan depresi adalah rasa syukur. Apakah ini tepat ? Beberapa tahun menangani depresi klinis membawa kesimpulan bahwa rasa syukur bisa membantu individu yang sedang mengalami depresi. Ini bukan berarti orang yang menderita depresi adalah orang yang kurang bersyukur dan alasan untuk berada dalam situasi lemah dan penuh kesedihan.
Tersedia beberapa bukti ilmiah yang mendukung teori bahwa rasa syukur dapat mengurangi rasa depresi misalnya misalnya studi dari Broski tahun 2009. Jika seseorang selama sebulan setiap harinya sebelum tidur menulis tiga hal positif dari pengalaman atau hal yang bisa disyukuri maka kondisi depresinya dapat berkurang. Sangat sederhana tiga kalimat “saya bersyukur untuk apapun” apapun ini bisa bisa berupa apa saja seperti rasa Bahagia melihat Matahari di mana saya tidak kehujanan. Intinya kita diharapkan dapat menghargai untuk segala sesuatu yang masih bisa saya nikmati. Dalam rentang waktu tertentu, konsistensi ini dapat membantu mengurangi simtom depresi.
Penulis menyadari bahwa mengakui semua hal positif di sekitar kita bahkan ketika hari-hari terburuk, ternyata hal-hal baik masih terjadi. Perlu dicatat bersyukur belum menyembuhkan depresi. Perasaan untuk menyerah ke dalam lubang gelap mencekam tetap akan hadir. Rasa syukur mengurangi perasaan untuk terus masuk kedalam lubang gelap itu.
Banyak klien merasakan suasana hati sedikit lebih cerah saat bersyukur. Rasa syukur mempengaruhi otak untuk secara aktif memikirkan hal-hal positif dalam hidup Anda. Otak akan melepaskan hormon-hormon yang berperan dalam pengaturan suasana hati seperti dopamin serotonin dan oksitosin yang mengaktifkan pusat kesenangan dan mereduksi perasaan sedih dan khawatir. Walaupun demikian, terkadang bersyukur bukan pil manjur yang pasti akan menghilangkan depresi. Banyak hal yang mempengaruhi depresi. Misalkan saja, factor pola kepribadian, relasi dengan orang signifkan, luka masa lampau, dan lain sebagainya. Oleh karenanya konsultasi dengan tenaga professional Kesehatan mental sangat dianjurkan.
Ada kalanya, semuanya sudah terlalu gelap dan mencekam. Ketika episode depresi sedang menyerang jangankan bersyukur, untuk melakukan hal sederhana seperti makan saja sudah terlalu berat. Memaksa diri untuk berpikir positif perlu dibantu tidak bisa sendiri. Jadi walaupun kita tahu bahwa rasa syukur berkorelasi negative dengan simtom depresi, Janganlah langsung loncat pada kesimpulan bahwa depresi adalah akibat dari rasa kurang bersyukur. Banyak variable yang harus diidentifikasi serta dipertimbangkan agar orang yang mengalami depresi dapat keluar dari perasaan mencekam. Kepedulian kita untuk memberikan kehangatan emosional sebagai manusia, akan sangat berarti.


