
Pernahkah Anda memejamkan mata dan merenungkan masa lalu? Momen-momen yang membuat kita merasa bangga dengan pilihan kita atau mungkin berharap kita bisa melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda? Penyesalan adalah tema yang tak pernah sepele. Seringkali, kita mengaitkannya dengan peluang yang hilang atau kesempatan yang terlewatkan. Seperti yang diungkapkan oleh Ronnie Ware, seorang perawat perawatan paliatif yang merawat pasien-pasien yang sedang dalam tahap akhir kehidupan, ada pola penyesalan yang muncul lagi dan lagi. Pola ini berkaitan dengan hak kita untuk memiliki kejelasan visi luar biasa tentang hidup kita dan bagaimana kita dapat belajar dari kebijaksanaan mereka. Dalam tulisan ini, kami akan menguraikan lima penyesalan paing banyak yang diungkapkan oleh manusia di akhir kehidupan mereka, menggali mengapa penyesalan ini begitu mendalam, dan bagaimana kita semua dapat belajar dari mereka.
1. Penyesalan Terbesar: Saya Harap Saya Memiliki Keberanian untuk Menjalani Kehidupan yang Jujur pada Diri Saya Sendiri
Penyesalan ini adalah yang paling umum diungkapkan ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya hampir mencapai akhir. Melihat kembali, mudah untuk menyadari berapa banyak impian yang tidak terlaksana. Penelitian dari Cornell University bahkan mengindikasikan bahwa salah satu penyesalan terbesar kita berasal dari diri ideal kita dan kegagalan kita untuk hidup sesuai dengan keinginan kita. Ini menunjukkan bahwa banyak dari kita merasa menyesal karena tidak mengambil inisiatif dalam menjalani hidup yang kita inginkan. Ini sesuai dengan teori penyesalan temporal, yang mengungkapkan bahwa tindakan yang kita hindari karena rasa takut akan berakhir dengan penyesalan yang lebih besar di kemudian hari.
Jadi, jika Anda pernah merasa seperti seharusnya Anda melakukan perjalanan itu, mengajak seseorang berkencan, atau pergi ke perguruan tinggi, penyesalan ini bisa berlangsung lebih lama daripada penyesalan-penyesalan kecil, seperti mengatakan sesuatu yang memalukan atau setuju untuk melakukan tugas yang menjengkelkan di tempat kerja. Ini adalah pengingat kuat tentang pentingnya mengambil risiko dalam hidup dan berani mewujudkan impian kita.
2. Penyesalan Kedua: Saya Harap Saya Tidak Bekerja Terlalu Keras
Penyesalan ini paling umum diungkapkan oleh pasien-pasien laki-laki yang dirawat oleh Ware. Mereka menyesali bahwa mereka telah melewatkan waktu berharga bersama anak-anak mereka dan pasangan mereka. Terlalu sering, mereka terjebak dalam kehidupan kerja yang sibuk, bahkan ketika mereka ada di rumah. Mereka terus memeriksa email, sibuk dengan pekerjaan, dan kurang hadir secara emosional.
Dr. Inna Kazan, seorang psikolog klinis berlisensi, menegaskan pentingnya mematikan pekerjaan ketika berada di rumah. Ini berarti memberikan perhatian sepenuhnya pada keluarga dan tidak tergantung pada teknologi. Namun, tidak ada yang salah dengan kerja keras atau memiliki ambisi untuk mencapai hal-hal besar dalam karier kita. Tapi, kita harus berhati-hati agar tidak terlalu terperangkap dalam pekerjaan hingga kehilangan waktu berharga dengan orang yang kita cintai.
3. Penyesalan Ketiga: Saya Harap Saya Memiliki Keberanian untuk Mengungkapkan Perasaan Saya
Banyak orang menekan perasaan mereka karena takut akan reaksi orang lain. Mereka khawatir akan mengatakan hal yang salah atau disalahartikan. Tetapi Ware mencatat bahwa, meskipun orang mungkin merasa terganggu saat pertama kali kita mengungkapkan perasaan, ini bisa meningkatkan hubungan kita ke tingkat yang lebih sehat atau membantu kita melepaskan hubungan yang tidak sehat dari hidup kita.
Menurut penulis dan peneliti Brene Brown, kita harus memilih keberanian daripada kenyamanan. Meskipun ada situasi di mana sulit untuk mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan, terkadang kita harus berbicara jujur. Keheningan bisa membawa dampak buruk seperti perasaan hampa atau bahkan perkembangan penyakit yang berkaitan dengan kepahitan dan kebencian. Oleh karena itu, penting untuk mengingat bahwa kita tidak bisa mengendalikan reaksi orang lain.
4. Penyesalan Keempat: Saya Harap Saya Lebih Berinvestasi dalam Hubungan Antar Manusia
Ware menemukan banyak orang menyesal karena terlalu fokus pada diri mereka sendiri dan terlalu sibuk untuk berinvestasi dalam persahabatan. Ini adalah masalah yang semakin relevan dalam era media sosial, di mana mudah bagi seseorang untuk keluar dari lingkaran teman dan tidak menghubungi mereka dalam waktu yang lama.
Sebuah studi yang diterbitkan di Royal Society membuktikan bahwa orang mulai kehilangan kontak dengan teman-teman setelah mencapai usia 25 tahun. Wanita cenderung kehilangan kontak lebih cepat daripada pria.
Nicole Sporden, seorang terapis, mengatakan bahwa cara untuk berhubungan kembali dengan seseorang tergantung pada berapa lama waktu yang telah berlalu. Kita mungkin perlu belajar lagi tentang mereka dan menunjukkan rasa ingin tahu yang sehat untuk memperbarui hubungan tersebut.
5. Penyesalan Kelima: Saya Harap Saya Membiarkan Diri Saya Lebih Bahagia
Terakhir, banyak dari kita menyesal karena terlalu sering terjebak dalam rutinitas dan kebiasaan yang membuat kita merasa “nyaman.” Terlalu sering kita pura-pura bahagia hanya untuk menjaga perdamaian dengan orang lain atau agar tidak membuat masalah.
Penulis Shawn Achor, dalam bukunya “The Happiness Advantage”, mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Terkadang, kita hanya perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Kita perlu belajar untuk hidup dalam kegembiraan dan tidak terjebak dalam kehidupan yang monoton.
Mengakui bahwa hidup adalah perjalanan dengan segala lika-liku dan tantangan, kita dapat merasa bahagia dalam setiap momen. Kegembiraan bisa ditemukan di tengah-tengah perjalanan kita menuju tujuan, bukan hanya di akhirnya. Jadi, berenanglah dalam lautan kebahagiaan sekarang, tanpa penyesalan.
Kesimpulan
Penyesalan adalah bagian alami dari kehidupan kita. Namun, dengan memahami apa yang paling sering disesali oleh orang lain, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan membebaskan diri dari penyesalan. Jangan biarkan penyesalan menghantui Anda di akhir hayat. Gunakan pengetahuan ini sebagai panduan untuk mengambil risiko, mencari kebahagiaan, dan menjalani hidup yang jujur pada diri sendiri.
Ingatlah, hidup adalah sebuah perjalanan, dan kebahagiaan bisa ditemukan di sepanjang jalan tersebut. Jadi, mari hidup tanpa penyesalan dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan apa yang kita inginkan dan percaya


