
Mungkin ada pengalaman kolektif jutaan orang Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, yah rasanya penulis bisa bilang ketidakpastian. Kita mungkin tidak selalu membicarakannya dengan gambalang, tetapi perasaan tidak pasti ini terasa dalam berbagai konteks. Ketika harga kebutuhan pokok terus ada penyesuaian (naik), berita tentang PHK muncul hampir setiap minggu, media sosial dipenuhi perdebatan politik yang tak kunjung selesai, atau ketika konflik di berbagai belahan dunia tiba-tiba memengaruhi nilai tukar rupiah dan harga energi di dalam negeri, banyak orang mulai merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Bukan karena sesuatu yang buruk pasti terjadi, tetapi karena masyarakat tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Kalau pakai kacamata psikologi modern, beberapa studi menunjukkan bahwa manusia sering kali lebih mampu menghadapi kenyataan pahit daripada menghadapi ketidakpastian. Ketika seseorang mengetahui bahwa bisnisnya gagal, ia masih dapat menyusun rencana baru. Ketika seseorang mengetahui bahwa kontraknya tidak diperpanjang, ia masih bisa mulai mencari pekerjaan lain. Namun ketika seseorang tidak tahu apakah bisnisnya akan bertahan, tidak tahu apakah kontraknya akan diperpanjang, atau tidak tahu bagaimana kondisi ekonomi enam bulan ke depan, pikirannya akan terus bekerja tanpa henti mencoba mencari jawaban yang sebenarnya hanya Tuhan yang tahu. Dalam ilmu psikologi, kondisi ini dikenal sebagai intolerance of uncertainty atau intoleransi terhadap ketidakpastian. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan seseorang dalam menghadapi ketidakpastian merupakan salah satu faktor dominan yang memengaruhi kesehatan mental. Individu yang sulit menerima ketidakpastian cenderung mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi, lebih rentan terhadap depresi, serta lebih sering mengalami pikiran-pikiran yang berulang mengenai kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Penelitian pada tahun 2025 bahkan menunjukkan bahwa intoleransi terhadap ketidakpastian berhubungan dengan berbagai gangguan psikologis yang beragam, mulai dari kecemasan, gangguan panik, OCD, hingga depresi.
Jika kita melihat kondisi Indonesia hari ini, tidak sulit menemukan sumber-sumber ketidakpastian tersebut. Perekonomian global masih dibayangi konflik geopolitik, perubahan rantai pasok dunia, dan perlambatan ekonomi di berbagai negara. Di dalam negeri, masyarakat menghadapi berbagai tantangan mulai dari kenaikan biaya hidup, persaingan kerja yang semakin ketat, perubahan teknologi yang mengancam sejumlah profesi, hingga kekhawatiran mengenai kemampuan generasi muda untuk memiliki rumah atau mencapai stabilitas finansial seperti generasi sebelumnya. belum lagi ditambah memilih kopi atau nabung buat dp KPR. Ketidakpastian ekonomi memiliki karakteristik yang unik. Berbeda dengan ancaman fisik yang terlihat jelas, ancaman ekonomi sering kali tidak kasat mata. Tidak ada suara sirene/bel yang memperingatkan bahwa seseorang mungkin kehilangan pekerjaannya enam bulan lagi. Tidak ada alarm yang memberi tahu bahwa bisnis yang sedang dijalankan akan mengalami penurunan omzet tahun depan. Yah karena tidak terlihat inilah ancaman ekonomi sering kali lebih menguras energi psikologis. Pikiran manusia cenderung mengisi kekosongan informasi dengan berbagai kemungkinan, dan sayangnya otak lebih mudah membayangkan skenario negatif daripada skenario positif.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini terlihat dari kebiasaan banyak orang yang terus-menerus update berita ekonomi, memperhatikan pergerakan harga IHSG/US$, atau menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi. Mereka tidak sedang malas atau pesimis. Mereka sebenarnya sedang berusaha mendapatkan kembali rasa kontrol atas situasi yang terasa tidak pasti. Masalahnya, upaya tersebut sering kali justru memperkuat kecemasan. Semakin banyak informasi yang dicari, semakin banyak pula kemungkinan baru yang ditemukan untuk dikhawatirkan. Fenomena serupa juga terjadi dalam konteks politik. Banyak orang menganggap politik adalah urusan para elite dan tidak memiliki hubungan langsung dengan kesehatan mental masyarakat. Padahal penelitian terbaru menunjukkan hal yang berbeda. Riset juga menjelaskan bahwa retorika politik yang penuh ancaman, konflik, dan polarisasi dapat menjadi sumber stres psikologis yang nyata bagi masyarakat. Bahkan ketika seseorang tidak terlibat langsung dalam aktivitas politik, paparan terus-menerus terhadap narasi konflik dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan kewaspadaan psikologis.
Di Indonesia, fenomena ini sangat mudah ditemukan, terutama hari-hari ini saat dollar menyentuh 18ribuan dan IHSG yang rontok. Media sosial dipenuhi oleh berbagai prediksi yang saling bertentangan. Sebagian pihak mengatakan negara sedang menuju kemajuan, sementara pihak lain memperingatkan kemungkinan krisis. Sebagian kelompok optimis terhadap masa depan, sementara kelompok lain memprediksi berbagai bencana sosial dan ekonomi. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menyerap emosi yang menyertainya. Ketakutan, kemarahan, kecemasan, dan kekhawatiran menyebar jauh lebih cepat dibandingkan data dan analisis yang objektif. Yang bikin situasi menjadi semakin kompleks adalah keberadaan media sosial. Jika dahulu seseorang hanya menerima berita satu atau dua kali sehari melalui koran atau televisi, kini informasi datang tanpa henti selama dua puluh empat jam. Setiap notifikasi membawa kemungkinan ancaman baru untuk dipikirkan. Setiap unggahan menghadirkan alasan baru untuk khawatir. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, dan salah satu cara paling efektif untuk mempertahankan perhatian adalah dengan menampilkan konten yang memicu emosi kuat. Akibatnya, berita tentang ancaman, konflik, atau krisis sering kali mendapatkan ruang yang jauh lebih besar dibandingkan berita yang memberikan rasa tenang dan harapan.
Pada saat ini muncul paradoks yang menarik. Ketika ketidakpastian meningkat, manusia secara alami mencoba berpikir lebih keras. Kita mengulang-ulang skenario dalam kepala. Kita mencoba memprediksi masa depan. Kita membuat rencana cadangan, rencana cadangan untuk rencana cadangan, bahkan terkadang rencana cadangan untuk kemungkinan yang sangat kecil peluangnya terjadi. Kita percaya bahwa semakin banyak kita berpikir, semakin besar peluang kita menemukan kepastian. Lucunya, penelitian tentang mekanisme perhatian manusia menunjukkan bahwa kapasitas mental kita sebenarnya terbatas. Salah satu penelitian menjelaskan bahwa ketika seseorang menghadapi ketidakpastian, otak akan mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk memperhatikan informasi yang dianggap relevan dengan ancaman tersebut. Dalam jangka pendek hal ini membantu. Namun dalam jangka panjang, perhatian yang terus terfokus pada ancaman membuat seseorang semakin sensitif terhadap informasi negatif. Ia mulai melihat risiko di mana-mana. Masa depan terasa lebih suram daripada kenyataannya. Kemungkinan buruk tampak jauh lebih besar daripada peluang keberhasilan.
Fenomena Inilah yang menjelaskan mengapa dua orang yang menghadapi situasi ekonomi yang sama dapat menunjukkan respons yang sangat berbeda. Seseorang mungkin melihat perlambatan ekonomi sebagai ancaman yang mengerikan dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merasa cemas. Orang lain mungkin melihat kondisi yang sama sebagai tantangan yang perlu dihadapi sambil tetap fokus pada hal-hal yang masih dapat ia kendalikan. Perbedaannya bukan terletak pada situasi eksternal, melainkan pada cara mereka memaknai ketidakpastian tersebut.
Pelajaran penting juga datang dari penelitian terhadap mahasiswa di Sudan (yah sama ga jelasnya kaya konoha) yang hidup di tengah pandemi COVID-19 dan instabilitas politik berkepanjangan. Penelitian tersebut menemukan tingkat tekanan psikologis yang cukup tinggi, termasuk gejala-gejala yang mengarah pada PTSD. Menariknya, sumber stres yang mereka alami bukan hanya pandemi atau konflik politik secara terpisah, melainkan kombinasi berbagai ketidakpastian yang berlangsung dalam waktu lama. Ketika individu tidak lagi mampu memprediksi kondisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, maupun keamanan sosialnya, tekanan psikologis meningkat secara signifikan. Meskipun Negeri ini berada dalam konteks yang berbeda, pelajaran yang dapat diambil tetap relevan. Ketidakpastian yang berlangsung terlalu lama akan menguras energi mental masyarakat. Dampaknya tidak hanya terlihat dalam statistik kesehatan mental, makin larisnya psikolog, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Orang menjadi lebih mudah marah, lebih cepat lelah, lebih sulit berkonsentrasi, dan lebih rentan terhadap konflik interpersonal. Hubungan keluarga dapat terganggu. Produktivitas kerja menurun. Bahkan kualitas pengambilan keputusan ikut terpengaruh karena pikiran terlalu sibuk memikirkan ancaman yang mungkin terjadi.
Lalu apa yang dapat dilakukan? Jawabannya mungkin terdengar katro, tetapi justru karena katro jadi sering kali diabaikan. Langkah pertama adalah menerima bahwa ketidakpastian bukanlah gangguan sementara yang suatu hari akan hilang sepenuhnya. Ketidakpastian adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Tidak ada periode dalam sejarah ketika manusia benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan. Yang berubah hanyalah bentuk ketidakpastiannya.
Langkah berikutnya adalah membedakan antara hal-hal yang dapat dikendalikan dan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Kita tidak dapat mengendalikan kebijakan ekonomi global, hasil pat-patgulipat elit, atau konflik internasional. Namun kita dapat mengendalikan cara mengelola keuangan pribadi, mengembangkan keterampilan baru, menjaga hubungan sosial, dan merawat kesehatan fisik maupun mental kita sendiri. Fokus pada area kendali pribadi membantu mengurangi perasaan tidak berdaya yang sering muncul ketika menghadapi ketidakpastian. Langkah berikutnya adalah membedakan antara hal-hal yang dapat dikendalikan dan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Kita tidak dapat mengendalikan kebijakan ekonomi global, hasil pemilu, atau konflik internasional. Namun kita dapat mengendalikan cara mengelola keuangan pribadi, mengembangkan keterampilan baru, menjaga hubungan sosial, dan merawat kesehatan fisik maupun mental kita sendiri. Kendali di ranah pribadi membantu mengurangi perasaan tidak berdaya yang sering muncul ketika menghadapi ketidakpastian.
Pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah kemampuan untuk menghilangkan ketidakpastian dari hidup kita. Upaya itu mustahil, mencoba sesuatu yang mustahil cuma bikin capek. Kesehatan mental adalah kemampuan untuk tetap hidup dengan baik di tengah ketidakpastian tersebut. Kemampuan untuk tetap bekerja meskipun ekonomi sedang bergejolak. Kemampuan untuk tetap berharap meskipun masa depan belum jelas. Kemampuan untuk tetap hadir bagi keluarga dan orang-orang yang kita cintai meskipun dunia di sekitar kita terus berubah. Mungkin inilah pelajaran terbesar yang bisa kita ambil dari berbagai penelitian psikologi tentang ketidakpastian. Kebahagiaan dan ketenangan bukanlah hadiah yang datang setelah semua jawaban ditemukan. Ajaibnya sering kali keduanya muncul ketika kita menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan pernah memiliki jawaban yang pasti. Dalam dunia yang semakin kompleks dan sulit diprediksi, kemampuan untuk hidup berdampingan dengan ketidakpastian mungkin bukan lagi sekadar keterampilan psikologis. Bersahabat dengan ketidakpastian bisa jadi salah satu kemampuan hidup yang paling penting di abad ke-21.
Referensi
- Cervin, M., Andrén, P., & Perrin, S. (2025). Intolerance of Uncertainty, Cognitive Avoidance, Positive Beliefs About Worry and Negative Problem Orientation.
- Mohammed, M. et al. (2024). Assessment of the Impact of COVID-19 and Political Instability on Mental Health of University Students in Sudan.
- Torales, J. et al. (2026). Geopolitical Rhetoric as a Potential Psychological Stressor.
- Gerhman, S. J., & Burke, T. (2022). Mental Control of Uncertainty.


