Wikantiyoso

,

Alasan Dibalik Menunda (Prokastinasi) dan Kehilangan Motivasi: Resume Sebuah Penelitian

·

3–4 menit

baca


Kita semua pernah mengalami masa-masa ketika kita merasa malas dan menunda-nunda. Meskipun kita tahu ada pekerjaan yang harus diselesaikan, seringkali kita tergoda untuk menunda-nunda dan berakhir merasa bersalah karenanya. Tapi mengapa Prokastinasi (penundaan ini terjadi?) Dr. Hall Hershfield, seorang peneliti di University of California, melakukan studi mendalam untuk memahami penyebab penundaan dan motivasi rendah Peran Diri Masa Depan

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa banyak orang menilai diri mereka saat ini berdasarkan diri mereka yang sempurna serta hasil imajinasi di masa depan. Misalnya, ketika kita merencanakan resolusi Tahun Baru, kita membayangkan diri kita yang sempurna, disiplin, dan berhasil. Namun, ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi ini, kita cenderung menjadi kritis terhadap diri sendiri, merasa cemas, dan akhirnya menunda.

Penelitian Awal: Hasil Pemindaian (Scan) Otak

Penelitian yang dimulai pada tahun 2013 ini melibatkan lebih dari seribu partisipan yang percaya bahwa mereka menderita prokastinasi. Dari survei tersebut, ditemukan bahwa 49% responden menyalahkan diri mereka sendiri atas motivasi rendah dan penundaan mereka. Responden merasa malas dan tidak berguna, yang akhirnya menghentikan mereka dari mencapai tujuan mereka.

Ketika Peneliti mengundang kembali para partisipan untuk memindai otak mereka menggunakan MRI, hasilnya mengejutkan. Ketika diminta untuk membayangkan diri mereka saat ini, beberapa bagian otak bersinar. Namun, ketika diminta untuk membayangkan diri mereka di masa depan, bagian otak yang berbeda bersinar, hampir seperti otak mereka tidak mengenali diri masa depan itu. Bahkan, otak mereka lebih mudah mengenali seorang selebriti daripada diri mereka sendiri di masa depan.

Tumpang Tindih Diri Saat Ini dan Diri Masa Depan

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa jika ada tumpang tindih yang lebih tinggi antara diri saat ini dan diri imajinatif dibanding orang-orang yang sedikit melakukan penundaan (prokastinasi) dan lebih bermotivasi. Mereka juga membuat keputusan yang lebih cerdas, seperti menabung lebih banyak untuk dana pensiun. Jadi, mengapa tumpang tindih ini penting dibahas?

Ketika kita memiliki motivasi dan ambisi untuk menjadi seseorang yang berbeda, hal itu bisa lebih mendorong diri. Namun, jika kita terlalu fokus pada diri masa depan yang sempurna, kita mungkin merasa tidak mampu untuk memulai dan mengeksekusi.

Otak Hewan vs. Otak Manusia

Untuk memahami lebih jauh, kita perlu melihat struktur otak kita. Otak kita terdiri dari bagian “otak hewan” yang mengendalikan emosi dan naluri alami, serta korteks frontal yang mengendalikan disiplin dan perencanaan. Ketika kita mencoba melakukan sesuatu yang sulit, bagian-bagian ini sering kali mengalami perebutan kekuasaan. Pada orang yang suka menunda-nunda, otak hewan lebih sering menang, memicu perasaan cemas dan takut, yang akhirnya menghalangi kita untuk memulai tugas tersebut.

Manajemen Emosi: Jawaban Mengatasi Penundaan

Peneliti menemukan bahwa prokastinasi sebenarnya lebih berkaitan dengan manajemen emosi daripada manajemen waktu. Orang yang menunda-nunda cenderung memiliki rasa kasih sayang yang lebih rendah terhadap diri mereka sendiri. Mereka kesulitan mendukung diri saat ini dari sudut pandang diri masa depan, yang menciptakan lingkaran setan penundaan dan rendahnya motivasi.

Solusi: Integarasi Diri Saat Ini dan Diri Masa Depan

Untuk mengatasi masalah ini, Dr. Hershfield menyarankan agar kita berusaha melihat diri masa depan sebagai bagian dari diri kita saat ini. Salah satu metode yang dia sarankan adalah menggunakan teknologi visualisasi, seperti filter Instagram atau TikTok yang dapat menampilkan versi diri kita yang lebih tua. Dengan melihat diri masa depan secara lebih jelas, kita mungkin akan lebih termotivasi untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana dan bekerja menuju tujuan tersebut.

Penundaan dan motivasi rendah adalah masalah yang kompleks yang melibatkan banyak faktor emosional dan psikologis. Namun, dengan memahami bagaimana otak kita bekerja dan mengadopsi strategi untuk melihat diri pada masa depan sebagai bagian integral (utuh) dari diri kita saat ini, kita dapat mengatasi kecenderungan untuk menunda (prokastinasi) dan mencapai tujuan kita dengan lebih efektif.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat dan menginspirasi, jangan ragu untuk membagikannya dengan teman-teman dan keluarga Anda. Oh,  jika Anda merasa kesulitan mengatasi penundaan (prokastinasi) dan rendahnya motivasi, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional. Menghubungi psikolog atau konselor bisa menjadi langkah pertama menuju kehidupan yang lebih produktif dan memuaskan. Kebetulan, apabila Anda ada di sekitaran Bintaro, anda bisa mencoba layanan tatap muka gratis dengan mendaftar pada situs ini.

Semoga tulisan ini memberikan wawasan baru tentang Prokastinasi dan motivasi, serta mendorong pembaca untuk mengambil langkah positif dalam hidup yang bervariasi ini.

Dr. B Wikantiyoso, Psi

Tentang Pengasuh

Dr. B Wikantiyoso, Psi

Founder Matala.id · Mental Health Advocate · Clinical Psychologist · Career Counselor · ReAttach Therapist

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Wikantiyoso

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca