Melamar Kerja atau Berwirausaha: Ketika Bekerja Tidak Lagi Cukup.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn

Biasanya setelah lulus sekolah, orang-orang di sekitar kita akan bertanya “Mau kerja di mana?” Pertanyaan itu dulu terasa wajar. Sekolah, kuliah, mendapat ijazah, lalu masuk ke dunia kerja. Seolah-olah hidup sudah memiliki jalur yang jelas. Orang tua berharap anaknya segera bekerja. Kampus berharap lulusannya cepat terserap industri. Pemerintah berharap jumlah pengangguran turun. Sementara anak muda berharap ada satu pintu yang terbuka, satu perusahaan yang menerima, satu pekerjaan yang memberi kepastian.

Namun hari ini, pertanyaan “mau kerja di mana?” menjadi momok yang mengerikan. Dunia kerja berubah terlalu cepat. Banyak pekerjaan lama berubah bentuk. Banyak perusahaan mengurangi tenaga kerja tetapi menuntut keterampilan yang lebih kompleks. Teknologi membuat sebagian pekerjaan jadi ga relevan karena diganti oleh robot atau otomatisasi. Sementara itu, pekerjaan baru yang muncul dengan kebutuhan keterampilan terkini belum tentu sudah diajarkan di ruang kelas. Di saat yang sama, jumlah lulusan terus bertambah, persaingan semakin sengit, dan ijazah tidak lagi otomatis menjadi tiket masuk menuju kehidupan yang stabil.

Banyak anak muda akhirnya berada di “ruang tunggu” taanpa kepastian. Mereka sudah lulus, tetapi belum benar-benar merasa siap. Mereka mengirim lamaran, mengikuti tes, menunggu panggilan, lalu kembali mengulang proses yang sama. Sebagian mulai bertanya-tanya, apakah mereka kurang pintar, kurang beruntung, atau memang dunia kerja sudah berubah tanpa sempat mereka pahami? Mungkin, sudah waktunya kita perlu mengubah cara berpikir tentang tenaga kerja.

Tenaga kerja masa depan tidak cukup hanya dipahami sebagai orang yang mencari pekerjaan. Tenaga kerja masa depan adalah manusia yang mampu menciptakan nilai tambah. Ia mungkin bekerja di perusahaan, membangun usaha sendiri, menjadi pekerja lepas, mengelola komunitas, mengembangkan produk digital, membantu bisnis keluarga, atau memberikan solusi dari masalah yang ada di sekitarnya. Bentuknya bisa berbeda-beda, tetapi intinya sama: ia tidak hanya menunggu nasib, melainkan belajar membaca peluang.

Karena itu, kewirausahaan tidak boleh dipahami secara sempit sebagai “membuka toko” atau “menjadi pengusaha”. Kewirausahaan adalah cara berpikir. Kewirausahaan adalah kemampuan melihat masalah sebagai kemungkinan. Ketika orang lain hanya melihat kemacetan, seorang yang berpikir wirausaha melihat kebutuhan transportasi. Ketika orang lain hanya melihat sampah makanan, ia melihat peluang pengolahan. Ketika orang lain hanya mengeluh tentang sulitnya mencari kerja, ia mulai bertanya: keterampilan apa yang dibutuhkan orang lain, masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan, dan nilai apa yang bisa saya tawarkan?

Cara berpikir inilah yang disebut sebagai entrepreneurial mindset. Cara berpikir ini tidak hanya penting bagi orang yang ingin mendirikan usaha. mindset ini juga penting bagi karyawan, pegawai negeri, pekerja pabrik, guru, tenaga kesehatan, konsultan, peneliti, dan siapa pun yang ingin tetap relevan. Di dunia kerja baru, orang yang hanya menunggu instruksi akan mudah tertinggal. Yang dibutuhkan adalah manusia yang mampu belajar, menyesuaikan diri, mengambil inisiatif, bekerja sama, dan memahami kebutuhan nyata di sekitarnya.

Masalahnya, pendidikan kita sering kali masih lebih kuat dalam menyiapkan orang untuk menjawab soal daripada menjawab persoalan. Banyak lulusan tahu teori, tetapi belum terbiasa membaca pasar. Banyak yang memahami konsep, tetapi belum terlatih mengubah konsep menjadi solusi. Banyak yang ingin bekerja, tetapi belum memahami bagaimana dunia kerja menilai kontribusi. Akibatnya, ada jarak antara apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan.

Jarak inilah yang membuat pembicaraan tentang employability menjadi penting.

Employability bukan sekadar kemampuan mendapat pekerjaan. Employability adalah kesiapan seseorang untuk masuk, bertahan, berkembang, dan berpindah secara sehat dalam dunia kerja yang berubah. Di dalamnya ada keterampilan teknis, tetapi juga ada kemampuan komunikasi, kerja sama, ketahanan mental, disiplin, jejaring, kemampuan belajar, dan identitas karier. Orang yang memiliki employability tidak hanya bertanya, “ada lowongan apa?”, tetapi juga bertanya, “saya punya kemampuan apa, bisa berkembang ke mana, dan nilai apa yang bisa saya berikan?”

Namun employability saja belum cukup apabila seseorang hanya diarahkan untuk menjadi pencari kerja. Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar lulusan yang siap melamar. Indonesia membutuhkan manusia yang siap menciptakan manfaat. Di sinilah kewirausahaan masuk sebagai pelengkap yang mendesak. Employability membuat seseorang siap bekerja. Kewirausahaan membuat seseorang siap menciptakan peluang.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Seorang karyawan bisa memiliki jiwa kewirausahaan ketika ia mampu memperbaiki proses kerja, memahami pelanggan, menemukan cara baru yang lebih efisien, dan berani mengusulkan solusi. Seorang wirausahawan juga tetap membutuhkan employability karena ia harus mampu berkomunikasi, mengelola waktu, membangun tim, membaca data, dan beradaptasi dengan perubahan pasar. Dengan kata lain, pekerja masa depan perlu memiliki keduanya: kesiapan kerja dan daya cipta.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak meromantisasi kewirausahaan. Tidak semua orang harus menjadi pengusaha. Tidak semua orang cocok membuka usaha. Dan tidak semua orang yang sulit mendapat pekerjaan harus langsung disuruh berjualan. Pandangan seperti itu terlalu sederhana, bahkan bisa tidak adil. Berwirausaha membutuhkan modal psikologis, pengetahuan, jejaring, keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca pasar, dan daya tahan menghadapi kegagalan.

Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya semangat menjadi pengusaha, tetapi ekosistem yang memungkinkan orang belajar menjadi produktif, menghaasilkan manfaat yang bernilai. Ekosistem itu mencakup pendidikan yang lebih praktis, pelatihan yang berbasis masalah nyata, pendampingan usaha, akses pasar, literasi keuangan, jejaring mentor, dukungan teknologi, dan ruang aman untuk mencoba sesuatu yang baru, serta gagal dan belajar. Tanpa ekosistem, kewirausahaan hanya menjadi slogan motivasi. Dengan ekosistem, kewirausahaan dapat menjadi jalan pemberdayaan.

Di sinilah asesmen dan pengembangan tenaga kerja menjadi penting. Kita tidak bisa memperlakukan semua anak muda, semua calon pekerja, atau semua calon wirausahawan dengan cara yang sama. Ada orang yang kuat dalam ide, tetapi lemah dalam eksekusi. Ada yang berani mengambil risiko, tetapi kurang mampu menghitung konsekuensi. Ada yang unggul dalam membangun relasi, tetapi belum rapi dalam mengelola keuangan. Ada yang tekun dan disiplin, tetapi kurang percaya diri menawarkan gagasan.

Tanpa pemetaan yang baik, pelatihan hanya menjadi event seremonial. Peserta datang, mendengar materi, mengisi daftar hadir, mendapat sertifikat, lalu kembali ke dalam kebingungan harian yang sama. Harapannya dengan pemetaan yang tepat, pengembangan tenaga kerja bisa menjadi lebih akurat. Orang tahu kekuatannya, tahu area yang perlu diperbaiki, dan tahu langkah berikutnya. Pelatihan tidak lagi sekadar memberi motivasi, melainkan membantu orang bertindak dengan kesadaran.

Pada akhirnya, masa depan tenaga kerja Indonesia tidak ditentukan hanya oleh berapa banyak orang yang lulus sekolah atau kuliah. Masa depan itu ditentukan oleh seberapa siap mereka menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa pekerjaan berubah. Kenyataan bahwa ijazah saja tidak cukup. Kenyataan bahwa keterampilan perlu terus diperbarui. Kenyataan bahwa peluang sering kali tidak datang dalam bentuk lowongan, tetapi dalam bentuk masalah yang menunggu diselesaikan.

Maka, mungkin pertanyaan setelah lulus perlu kita ubah. Bukan lagi hanya, “mau kerja di mana?” Tetapi juga, “masalah apa yang kamu pahami?” “Keterampilan apa yang bisa kamu tawarkan?” “solusi apa yang bisa kamu ciptakan?” “Siapa yang bisa terbantu oleh kemampuanmu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu lebih sulit, tetapi lebih akurat terhadap perkembangan zaman. Karena dunia kerja hari ini tidak lagi sekadar membutuhkan pencari kerja. Dunia kerja membutuhkan manusia yang mampu belajar, beradaptasi, bekerja sama, mengambil inisiatif, dan menciptakan manfaat.Mungkin saja, di sinilah masa depan tenaga kerja dan kewirausahaan Indonesia sebenarnya dimulai: bukan dari lowongan pertama yang diterima, tetapi dari keberanian untuk melihat diri sendiri sebagai pencipta solusi.

More to explorer

Artikel Lainnya

Leave a Reply

Discover more from Wikantiyoso

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading