Kebebasan Itu Kutukan?
Kita hidup di era yang tampak lebih bebas dari sebelumnya. Kita bisa memesan makanan apa pun yang kita suka, bepergian hampir ke mana saja, dan mengejar karier apa pun yang diinginkan hati kita. Namun, meskipun semua kebebasan ini, depresi dan kelelahan justru merajalela. Krisis kesehatan mental terus meningkat. Mengapa hal ini terjadi?
Tekanan Budaya untuk Lebih Baik
Budaya kita menekankan pengembangan diri. Kita selalu didorong untuk berbuat lebih banyak dan menjadi lebih baik. Namun, apakah ini benar-benar membawa kita ke arah yang lebih baik? Atau justru membuat kita kelelahan dan tertekan? Kita hidup dalam budaya hiperaktif yang mendorong kita dalam keadaan berjuang kompulsif, dengan sedikit waktu untuk terhubung dengan diri kita sendiri dan orang lain.
Mitos Individualisme dan Korporasi
Budaya kita menormalkan mitos bahwa kita adalah individu yang berjuang untuk mencapai tujuan pribadi. Semakin kita mendefinisikan diri kita sendiri melalui pencapaian, semakin kita terasing dari siapa kita sebenarnya dan apa yang kita perlukan untuk menjadi sehat. Para peneliti seperti Tim Kasser menemukan bahwa empat prinsip kapitalisme korporat—minat, keinginan untuk sukses finansial, konsumerisme, dan kompetisi—secara konsisten mengarah pada hasil kesehatan mental yang buruk. Jadi, mengapa kita terus mendukung dan menganut budaya seperti itu?
Teknologi dan Pengembangan Diri
Menariknya, di tahun-tahun terakhir hidupnya, Michel Foucault menulis tentang bentuk disiplin yang lebih spesifik yang disebutnya “teknologi niat diri” dan “tindakan sukarela”. Pikiran ini adalah cara di mana manusia menetapkan aturan perilaku untuk dirinya sendiri dan berusaha untuk mentransformasikan diri mereka. Namun, Pengembangan diri, bukannya membawa kita pada kebebasan, hal ini malah membawa kita pada kelelahan dan keputusasaan. Kita hidup dalam masyarakat yang berprestasi, di mana kita terus-menerus memonitor dan mengukur diri kita sendiri untuk mengoptimalkan produktivitas. Tekanan ini membawa kita pada eksploitasi diri yang berlebihan.
Bayangkan, kita berusaha keras untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, tetapi pada akhirnya, hal ini hanya membawa kita pada kelelahan dan depresi. Eksploitasi diri yang sukarela ini adalah ilusi yang dipertahankan oleh rezim neoliberal. Kita berusaha menjadi lebih baik dan dapat dipasarkan, tetapi pada akhirnya, kita terjebak dalam siklus narsisme dan sosiopati yang merusak.
Mengatasi Tekanan dan Mencari Kebahagiaan Sejati
Depresi dan kelelahan tidak hanya menunjukkan kelemahan dalam diri kita, tetapi juga menunjukkan sifat merusak dari budaya berprestasi ini. Keterasingan dan kehilangan hubungan dengan diri sendiri dan orang lain adalah akibat dari upaya kompulsif untuk mencapai kesempurnaan diri. Namun, perbaikan diri yang sehat dan bermotivasi intrinsik masih bisa dicapai. Kita harus memperhatikan kapan proses ini menjadi berlebihan dan merusak.
Kembali ke Spontanitas dan Keterhubungan
Untuk melawan dorongan “Pengembangan diri”, kita perlu kembali pada aktivitas spontan dan keterhubungan yang nyata. Aktivitas yang dilakukan demi aktivitas itu sendiri, seperti seni, bermain dengan teman-teman, dan melambat, bisa membantu kita menemukan kembali kebahagiaan sejati. Seperti yang ditulis oleh Bertrand Russell, “Rahasia kebahagiaan adalah ini: biarkan kepentingan Anda seluas mungkin dan biarkan reaksi Anda terhadap hal-hal dan orang-orang yang Anda minati sedapat mungkin ramah daripada bermusuhan.”
Pada akhirnya, kebebasan sejati bukanlah tentang tidak adanya batas pencapaian, tetapi tentang kemampuan untuk terhubung dengan diri sendiri dan orang lain dengan cara yang sehat dan bermakna. Mari kita berhenti sejenak dari dorongan untuk selalu berprestasi dan mulai menghargai momen-momen spontan dan sederhana dalam hidup kita. Dengan begitu, kita bisa mengatasi tekanan budaya dan menemukan kebahagiaan sejati dalam diri kita sendiri.
Jika Anda merasa posting ini bermanfaat dan menginspirasi, jangan ragu untuk membagikannya dengan teman-teman dan keluarga Anda. Mari kita bersama-sama menyebarkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental dan cara untuk mencapai kebahagiaan sejati. Oh iya, jika anda ada disekitaran Bintaro, penulis membuka kesempatan untuk konsultasi psikologi gratis. Terima kasih telah membaca!







Tinggalkan Balasan